KAMPANYE TERBUKA “ASI SAJA SAMPAI USIA 6 BULAN” SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN GIZI PADA BAYI DI DUSUN GUNUNG KAWUNG DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019

  • Hariyani Sulistyoningsih STIKes Respati
  • chanty Yunie HR STIKes Respati
  • Tupriliany Danefi STIKes Respati
  • novi siti fatimah STIKes Respati
  • aeni nooranisa STIKes Respati
Keywords: ASI, KAMPANYE TERBUKA

Abstract

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu fondasi kesehatan, perkembangan dan terutama kelangsungan hidup anak. Pemberian ASI eksklusif menghindari anak dari penyakit seperti diare, pneumonia dan gizi buruk yang merupakan penyebab umum kematian anak di bawah 5 tahun (WHO, 2017).
World Health Organization (WHO) menyebutkan target pencapaian ASI eks-klusif tahun 2025 sebesar 50%, tetapi saat ini pencapaian secara global, hanya 38% bayi di bawah usia enam bulan yang disusui secara eksklusif (WHO, 2017). Target pem-berian ASI eksklusif di Indonesia tahun 2015 sebesar 55.7%, angka ini masih jauh dari target nasional yaitu 80%.
Cakupan pemberian ASI di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 55,7% dan pada jika mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan telah mencapai target. Menurut provinsi, kisaran cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan antara 26,3% (Sulawesi Utara) sampai 86,9% (Nusa
Tenggara Barat). Dari 33 provinsi yang melapor, sebanyak 29 di antaranya (88%) berhasil mencapai target renstra 2015 (Kemenkes RI, 2016).
Sedangkan Pada tahun 2016 di Indonesia diketahui bahwa jumlah persentase bayi mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 29,5% dan bayi yang mendapat ASI usia 0-5 bulan sebesar 54,0% (Kemenkes RI, 2017).
Pemberian ASI ekslusif di Jawa Barat sebanyak 349.968 Bayi umur 0-6 bulan dari 754.438 jumlah bayi 0-6 bulan (46,4%) gambaran ini masih dibawah cakupan nasional 52,3% terlebih Target nasional sebesar 80% walaupun demikian terdapat 2 kab/kota yang telah melampaui target nasional yaitu Kota Bandung 97,4% dan Kota Sukabumi 85,1% (Jawa Barat, 2016)
Berdasarkan tabel profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya cakupan tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 76,64% (Dinkes Kab Tasikmalaya, 2016).
Bayi yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif memiliki risiko kematian karena diare 3.94 kali (Ekawati et al., 2015). Estimasi
37
menunjukkan bahwa dalam praktik pemberian ASI eksklusif yang dapat mencegah kematian balita sebesar 11.6% (Black et al., 2013).
Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan ibu, motivasi dalam memberikan ASI, kurangnya pelayanan konseling, kurangnya kampanye ASI eksklusif, peran petugas kesehatan, ibu bekerja, kampanye susu formula, sikap ibu, dan dukungan keluarga (Irma dan Kustati, 2013; Wulandari, 2015).
Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh mahasiswa PBL 1 Tahun 2018.terdapat bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebanyak 6 bayi (11,6%) di Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna pada tahun 2018. Dengan adanya program Indonesia sehat pendekatan keluarga yang bertujuan untuk meningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang di didukung dengan perlindungan financial dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakkat dengan memiliki 12 indikator yang diantaranya adanya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi. Oleh karena itu untuk upaya peningkatan sikap positif terhadap pemberian ASI Eksklusif, penulis melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan dengan metode penyuluhan dan metode kampanye terbuka.

Published
2020-04-29
Section
Articles