PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT PENCEGAHAN PERILAKU SEKS MENYIMPANG (LESBI, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGENDER/LGBT) DI SMA NEGRI 2 SINGAPARNA

  • Santi Susanti STIKes Respati
Keywords: pencegahan, LGBT

Abstract

Perilaku seksual yang menyimpang masih merupakan hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia yang berbudaya ketimuran, masyarakat masih kental dan memegang teguh apa yang dinamakan dengan ajaran moral, etika, dan agama, sehingga perilaku seksual yang menyimpang tentu bukanlah fenomena yang dapat diterima begitu saja. Perilaku seksual yang menyimpang itu sendiri, muncul atas dasar orientasi seksual yang menyimpang. Orientasi seksual adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan rasa ketertarikan, romantisme, emosional, dan seksualnya kepada pria, wanita, atau kombinasi keduanya (Douglas, Markus, 2015). Perilaku seksual meyimpang dilakukan oleh kelompok- kelompok orang yang memiliki orientasi seksual menyimpang, atau lebih dikenal dengan istilah kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender/Transsexual).
Indonesia adalah negara yang berke-Tuhanan, sebagai negara yang mengakui adanya Tuhan, warga negaranya diberi kebebasan untuk melaksanakan perintah Tuhan sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci dan ajaran agama masing-masing. Berdasarkan pada ajaran agama-agama yang diakui di Indonesia, tidak terdapat alasan pembenar yang dapat dijadikan dalil untuk membenarkan perilaku seksual menyimpang. Perkembangan jumlah homoseksual di Indonesia bertambah setiap tahunnya, termasuk di dalamnya orientasi seksual yang non heteroseksual
seperti, biseksual dan transgender. Data statistik menujukkan 8-10 juta populasi pria di
Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual dan sebagin masih aktif melakukannya.
Data demografi menunjukkan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia, WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja. Sekitar 900 juta berada di negara sedang berkembang. Di Indonesia menurut Biro Pusat Statistik (1999) kelompok remaja adalah sekitar 22% yang terdiri dari 50,9% remaja lakilaki dan 49,1% remaja perempuan (dikutip dari Nancy P, 2002). Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Selain itu kematangan seksual juga mengakibatkan remaja mulai tertarik terhadap anatomi fisiologi tubuhnya. Selain tertarik kepada dirinya, juga mulai muncul
45
perasaan tertarik kepada teman sebaya yang berlawanan jenis.
Dalam pencegahan perilaku seks menyimpang maka diperlukan program pendekatan kepada remaja tentang LGBT sehingga meningkatkan pemahaman remaja akan hal tersebut. Oleh karena itu diperlukan program pengabdian masyarakat untuk sosialisasi tentang LGBT pada remaja di SMAN 2 Singaparna.

Published
2020-04-29
Section
Articles