Stunting LITERATUR REVIEW : HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK DAN KOGNITIF ANAK

  • Annisa Rahmidini, S.ST., M.Keb STIKes Respati
Keywords: pertumbuhan, perkembangan, stunting, gizi, sanitasi.

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang
dalam waktu yang cukup lama sebagai akibat dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan gizi yang diperlukan. (Black : 2017) Stunting di usia 0-2 tahun dapat mengganggu
perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik anak (Muhoozi: 2016). Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui hubungan antara status gizi stunting dengan perkembangan motorik dan kognitif anak.
Penelitian ini merupakan literature review dari hasil penelitian di beberapa daerah di Indonesia terkait
dengan stunting dan perkembangan anak Sumber pencarian jurnal melalui google scholar dalam kurun
waktu 2015 sampai 2019, dan hasil penelitian yang terpilih meliputi 4 penelitian dari 4 jurnal yang
berbeda.
Hasil penelitian menyatakan bahwa Anak yang stunting memiliki peluang 11,98 kali lebih besar untuk
mempunyai perkembangan motorik di bawah rata-rata. Serta kategori mild stunting dengan
perkembangan kognitif suspect ada keterlambatan pada anak toddler yaitu tidak mampu menyebutkan
jenis warna, membedakan ukuran objek, menyebutkan jenis kelamin, memasangkan gambar yang
dikenal. Sedangkan kategori moderate stunting dengan perkembangan kognitif suspect atau mengalami
keterlambatan dapat mengakibatkan sel otak berkurang 15-20 pesen, sehingga kelak di kemudian hari
akan menjadi manusia dengan kualitas otak sekitar 80-85 persen. Anak toddler yang mengalami kategori
severe stunting dengan perkembangan kognitif suspect ada keterlambatan ditandai dengan lambatnya
kematangan sel syaraf, lambatnya gerakan motorik, kurangnya kecerdasan dan lambatnya respon sosial.
Saran dalam penelitian ini adalah pihak keluarga dapat memberikan asupan makan sejak masa
kehamilan sampai bayi berusia 2 tahun untuk mencegah terjadinya kurang gizi dan penyakit infeksi yang
berdampak pada terjadinya stunting. Untuk mengantisipasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan
pada balita, petugas puskesmas dibantu kader posyandu hendaknya lebih aktif memberikan penyuluhan
dan memberikan konsultasi tentang pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita.
Selain itu, perlu diadakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, sehingga dapat
diketahui adanya masalah tumbuh kembang sedini mungkin. Selanjutnya, perlu adanya pengasuhan
yang baik dari keluarga seperti memberikan stimulasi dan dukungan bagi anak dalam mencapai tumbuh
kembang yang optimal.

Published
2020-04-24